Donor Darah HUT Peradi SAI Denpasar: Dari Profesi, Untuk Kemanusiaan
Ketika Suka Antarayasa, founder Paralegals.id, ditunjuk sebagai Ketua Panitia HUT DPC Peradi SAI Denpasar ke-IX, yang pertama kali terlintas dalam benaknya bukanlah gegap gempita acara formal, panggung, atau gebyar perayaan. Namun yang ia pikirkan adalah sesuatu yang sederhana, namun menyentuh inti dari profesi advokat: kemanusiaan.
Itulah sebabnya, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun DPC Peradi SAI Denpasar, akan dilangsungkan kegiatan donor darah pada 2 Juni 2025—sebagai wujud kepedulian nyata, bukan dalam bentuk pidato atau spanduk, melainkan dalam tindakan yang bisa langsung memberi harapan hidup bagi orang lain.
Darah yang Mengalirkan Makna
Di tengah rutinitas dan tekanan profesi, sering kali kita terlalu sibuk untuk merasa. Sibuk membela, sibuk menyusun argumen, sibuk menegakkan keadilan di atas kertas dan di dalam ruang sidang. Namun profesi ini sejatinya lahir dari rasa—rasa ingin menolong, rasa ingin membela yang lemah, rasa ingin memastikan tidak ada yang tertinggal.
Kegiatan donor darah ini adalah pengingat bahwa advokat, di luar toga dan palu sidang, adalah manusia yang bisa dan harus peduli. Darah yang mengalir dari lengan itu tidak hanya memberi manfaat medis, tetapi juga mengalirkan makna: bahwa kita hadir untuk sesama, bahwa profesi ini juga bisa hangat, lembut, dan menjangkau secara nyata.
Ajakan Bukan Sekadar Seruan
Kegiatan ini bukan hanya bagian dari agenda resmi. Ia adalah ruang perjumpaan, kesempatan untuk mengingatkan diri bahwa kita bisa berbagi tanpa harus menunggu banyak. Tanpa perlu modal besar, tanpa perencanaan rumit.
Satu kursi, satu jarum, dan satu kantong darah—cukup untuk menyelamatkan hidup seseorang yang bahkan tak kita kenal namanya.
Donor darah bukan kegiatan heroik. Ia sunyi, ia sederhana, namun justru di situlah letak keindahannya.
Persaudaraan yang Tak Harus Dekat
Dalam kegiatan ini, akan hadir banyak wajah dari berbagai latar belakang. Ada sesama pengacara, ada mitra kantor hukum, ada staf yang bekerja di belakang meja, mungkin juga masyarakat umum yang datang karena terdorong oleh keinginan sederhana untuk memberi.
Dan di tengah semua itu, ada semangat persaudaraan yang tidak selalu butuh kedekatan. Karena yang mengikat kita bukanlah organisasi semata, tetapi rasa saling peduli yang tumbuh dari niat bersama.
Kehangatan yang Harus Dijaga
Donor darah ini diharapkan menjadi kegiatan yang tidak berhenti di satu hari, satu agenda, atau satu periode kepanitiaan. Suka Antarayasa, bersama rekan-rekannya di Paralegals.id, melihat kegiatan ini sebagai bagian dari napas panjang pengabdian.
Pengabdian yang tidak harus menunggu momen besar. Tidak harus ditandai dengan sorotan. Tetapi cukup dilakukan terus, secara konsisten, dengan niat yang tidak pernah padam.
“Profesi ini tidak cukup hanya dengan keahlian, tapi juga harus dibangun dengan empati. Donor darah ini adalah bentuk kecil dari rasa itu—karena keadilan sejati hanya bisa lahir dari hati yang peduli,” ucap Suka, dengan keyakinan yang telah lama berakar dalam dirinya.
Untuk Siapa Saja yang Bersedia
Kegiatan ini terbuka. Tidak eksklusif. Tidak dibatasi gelar atau profesi. Semua orang yang merasa ingin berbagi dipersilakan hadir. Karena donor darah tidak pernah menuntut alasan besar, cukup satu niat baik, dan kesediaan untuk hadir.
Jika hari itu ada seseorang yang menerima darah dari kantong yang Anda donorkan, Anda tidak akan tahu siapa dia, bagaimana hidupnya, apa pekerjaannya. Tapi satu hal pasti, ia bisa terus hidup karena Anda memilih untuk memberi.
Dan barangkali, itu lebih dari cukup untuk membuat profesi ini terasa hidup kembali, tidak hanya dalam hukum, tapi dalam kemanusiaan yang sesungguhnya.