Sampah Plastik Bawa Turun #4: Langkah yang Terus Menyambung
Gunung tak pernah benar-benar memanggil, tapi selalu menjadi tempat kembali. Pada 27 Juni 2025 mendatang, Paralegals.id kembali mengajak siapa pun yang peduli untuk menapak jalur pendakian menuju Pura Pucak Mangu, dalam lanjutan kegiatan bertajuk “Sampah Plastik Bawa Turun”.
Ini akan menjadi pelaksanaan yang keempat. Sebuah penanda bahwa gerakan kecil yang bermula dari keinginan sederhana untuk menjaga alam, kini telah tumbuh menjadi agenda rutin dua kali dalam setahun—sebuah komitmen yang tak pernah kehilangan makna.
Kegiatan ini tetap berpijak pada nilai-nilai awalnya, bahwa keharmonisan antara manusia dan lingkungan harus dijaga melalui tindakan nyata. Bahwa menjaga alam bukan tugas siapa-siapa saja, tapi milik kita bersama.
Sispala Wana Bhakti Pertiwi, yang sejak awal menjadi mitra utama kegiatan ini, akan kembali turut serta. Para siswa SMA Negeri 1 Mengwi itu bukan sekadar peserta, melainkan roh gerakan ini—penerus semangat yang ditanamkan sejak 2007 oleh penggagasnya, Suka Antarayasa, saat masih berseragam putih abu-abu.
Dari langkah, menjadi gerakan
Dari satu komunitas kecil, kini Sampah Plastik Bawa Turun telah menjadi ruang perjumpaan banyak wajah. Beberapa dari mereka adalah pengacara dari kantor hukum lain, beberapa lainnya adalah staf notaris, sahabat lama yang membawa sahabat baru, yang datang bukan karena nama Paralegals.id, tetapi karena cerita.
Cerita tentang berjalan kaki di antara pepohonan, memungut plastik yang bukan milik kita, dan pulang dengan dada yang sedikit lebih lapang.
Kegiatan ini memang tidak mengubah dunia. Tapi ia mengubah cara kita memandangnya. Bahwa di tengah kesibukan hukum, rapat, dan rutinitas pekerjaan, masih ada waktu untuk berhenti sejenak—melihat kembali bumi yang kita pijak, dan ikut menjaganya, meski hanya dengan satu kantong sampah plastik.
Maka pada 27 Juni nanti, kami kembali mengundang siapa pun yang ingin bergabung. Tidak ada syarat selain niat yang tulus. Tidak ada batasan selain batas fisik yang bisa kita taklukkan bersama.
Karena gerakan ini bukan tentang siapa yang memulai, tapi tentang siapa yang bersedia menyambungnya. Dan kami percaya, bahwa gerakan kecil ini akan terus berulang, karena kepedulian tak pernah berhenti di satu hari.
Sampai jumpa di jalur pendakian.